Home > articles > 2009:Cosmos to Chaos

2009:Cosmos to Chaos

chaosMenurut Hukum Termodinamika II, terdapat kecenderungan dalam fenominal fisika dari keteraturan (cosmos) menuju ketidakteraturan (chaos), menuju entropi (ukuran/derajat ketidakteraturan) yang semakin besar. Sejalan dengan itu, dalam Bhagavadgita juga dimuat pandangan tentang waktu dalam kaitanya dengan keteraturan dan ketidakteraturan. Dijelaskan, satu hari Brahman meliputi 1000 yuga. Masing-masing yuga terdiri dari empat jaman, mulai dari jaman kerta yang didominasi dengan keteraturan sampai dengan jaman kali yang dikuasai oleh ketidakteraturan. Atas dasar itu, dalam tradisi Weda, ada keyakinan bahwa di alam ini terjadi perubahan tendensi dari keteraturan (Dharma) menuju kekacaubalauan (Adharma).

Teori kekacaubalauan berdasarkan pada prinsip mekanika Newton, tetapi dalam hal ketidakpastiannya menggunakan prinsip ketidakpastian Heisenberg di tingkat kuantum. Mekanika Newton maupun mekanika kuantum memandang ketidakpastian timbul karena alam semesta un tuk diteliti secara terpotong-potong. Sesungguhnya pandangan ketidakpastian para fisikawan memunculkan sejumlah implikasi berikut.

1.      Ketidakpastian sebagai keterbatasan manusia.
Sejumlah kecil fisikawan, termasuk Einstein dan Plank berpendapat bahwa ketidakpastian dalam teori kuantum disandarkan pada keterbatasan manusia sampai sekarang ini. Mereka yakin bahwa setiap mekanisme subatomik pasti ada hukumnya. Kelak hukum dari mekanisme ini akan ditemukan sehingga prediksi dapat dilakukan secara tepat. Einstein yakin bahwa kelak orang akan menemukan suatu teori bahwa semua obyek diatur oleh hukum bukan oleh kemungkinan. Einstein meyakini keteraturan dan keteramalan alam semesta, seperti katanya yang terkenal yaitu “Tuhan tidak bermain dadu”

2.      Ketidakpastian sebagai keterbatasan percobaan atau konseptual.
Beberapa fisikawan menegaskan bahwa ketidakpastian Heisenberg bukanlah bukti keterbatasan manusia, melainkan keterbatasan kodrati. Versi pertama pandangan ini diwakili oleh teori atom Neils Bohr, yang mengklaim bahwa masalahnya terletak pada percobaan itu sendiri. Versi kedua argumen ini memandang ketidakpastian pada keterbatasan konsep yang tak terelakkan. Pada saat memilih situasi percobaan, kita sebenarnya telah memutuskan dalam skema konseptual yang mana: gelombang atau partikel, yang tidak dapat dideskripsikan secara bersamaaan.
3.      Ketidakpastian sebagai ketidaktentuan di alam.
Heisenberg mengatakan bahwa ketidakteramalan merupakan sifat obyek alam dan keterbatasan pengetahuan manusia. Menurut pandangan ini, masa depan tidak sekadar tidak diketahui tetapi juga tidak dapat diputuskan. Waktu melibatkan kesejarahan dan ketakberulangan secara unik. Waktu tidak akan mengulang sejarahnya jika dikembalikan ke kondisi semula.

Tahun 2009 baru saja dimulai. Melihat sudut pandang di atas, kita dapat mengatakan bahwa, semakin lama waktu berjalan maka semakin dikuasai oleh kekacaubalauan. Hal yang dapat kita lakukan adalah melambatkan proses kekacaubalauan tersebut dengan berpikir positif untuk masa depan yang lebih baik. (soera)

Categories: articles
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: